Arsip

Archive for the ‘Artikel’ Category

Surat Gembala Hari Pangan Sedunia 2011 Keuskupan Agung Semarang

Oktober 11, 2011 Tinggalkan komentar

“Kamu harus memberi mereka makan”(Mat 14:16)

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam perjalanan pastoral di wilayah Keuskupan Agung Semarang saya menyaksikan di banyak tempat tanah kering, daun-daun meranggas karena kemarau panjang. Di wilayah pantai utara maupun selatan Jawa Tengah telah dirasakan kesulitan mendapatkan air. Di daerah pedalaman Yogyakarta-Surakarta tanah sawah menjadi kering kerontang. Keadaan tersebut menjadi keprihatinan para petani, yang merupakan sebagian besar masyarakat kita. Dengan rasa prihatin disampaikan oleh wakil umat, bahwa dua tahun terakhir ini gagal panen, karena ada serangan wereng. Gagal panen tentu dapat berdampak pada kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Keprihatinan tersebut mengantar kita ke Somalia, negeri di pantai barat benua Afrika yang dikabarkan sekarang ini sedang mengalami krisis pangan secara telak. Akibatnya, kelaparan diperkirakan akan menyebar di seluruh daerah selatan dalam beberapa bulan mendatang. Krisis di Somalia selatan ini diperkirakan akan memburuk selama bulan-bulan mendatang yang mengarah pada bencana kelaparan.

Diberitakan, bahwa lebih dari satu miliar warga dunia, atau seperenam dari populasi dunia, menderita kelaparan (http://dunia.vivanews.com/news/read/68402-fao__1_miliar_penduduk_dunia_kelaparan). Jumlah tersebut merupakan rekor sejarah dan kemungkinan diperparah oleh krisis ekonomi global yang menyebabkan tingginya harga bahan pangan. Negara-negara miskin memerlukan peningkatan
pertanian dan bantuan untuk mengatasi masalah kelaparan ini. “Krisis kelaparan yang diam-diam telah melanda seperenam jumlah manusia di dunia ini mengandung risiko serius bagi keamanan dan perdamaian dunia,” kata Jacques Diouf, Direktur Jenderal FAO (“Food and Agriculture Organization” atau “Organisasi Pangan dan Pertanian”, organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB).

Baca selanjutnya…

Iklan
Kategori:Artikel

Tema HPS – KWI 2011: Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Oktober 11, 2011 Tinggalkan komentar

Pendidikan Nilai dalam Gerakan HPS

Dalam kerangka mewujudkan Gerakan HPS  (Hari Pangan Sedunia) Gereja Katolik, ada 5 nilai yang hendak dibangun:

  1. Nilai Keseimbangan Pangan: pangan yang kita konsumsi adalah makanan yang memenuhi gizi sehat dan seimbang. Makan asal kenyang biasanya mengkonsumsi karbohidrat (nasi) terlalu banyak, padahal tubuh juga membutuhkan asupan makanan lain yang mengandung protein yang berasal dari hewan ternak dan ikan; vitamin dan mineral dari sayuran. Sangat dianjurkan agar kita mulai diet karbohidrat demi kesehatan. Dampaknya adalah pengurangan konsumsi beras dan penambahan konsumsi daging ternak, ikan dan sayuran.
  1. Nilai Kebersamaan: kebutuhan akan pangan mempertemukan kita dengan saudara-saudari kita yang lain. Kita akan tergerak jika mengetahui saudara-saudari kita yang kurang makan. Kita akan menjalin kerjasama dengan siapa saja yang berkehendak baik (Komisi PSE, Komisi Komunikasi Sosial, Wanita Katolik RI, KOPTARI, dsb.) untuk membangun gerakan pangan dan aksi solidaritas. Nilai ini akan mengalirkan kehidupan yang didasari bahwa segala sesuatu bukan karena jasa diri sendiri tetapi anugerah Allah.
  1. Nilai Pemberdayaan: kesadaran akan kebutuhan pangan menyemangati kita untuk giat dalam pemberdayaan diri bersama masyarakat. Pemberdayaan memerlukan kerja keras, kreatif dan pantang menyerah yang merupakan panggilan dan undangan Allah dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Pemberdayaan diri bersama masyarakat dalam pemenuhan makanan yang sehat dan seimbang didasarkan pada mentalitas kewirausahaan dan kemandirian dalam mata pencahariannya.
  1. Nilai Cinta Lingkungan Hidup: pemahaman nilai cinta lingkungan hidup akan menggerakkan budidaya kita dalam mengelola sumberdaya alam secara arif untuk membangun kehidupan yang berkelanjutan. Semangat cinta lingkungan hidup ini untuk membangun keutuhan ciptaanNya menuju kebaikan dan kesejahteraan bersama.
  1. Nilai Cinta Dalam Keluarga: kita dipertemukan dalam cinta kasih dalam keluarga lewat kebutuhan makan setiap hari. Tersedianya makanan yang cukup hari ini merupakan anugerah Allah. Ungkapan syukur ini mengandung makna akan penghargaan terhadap pangan dan prosesnya yang membentuk karakter budaya bangsa.

Baca selanjutnya…

Kategori:Album Foto, Artikel

Peringatan HPS: Momen Menyapa Para Petani

Oktober 11, 2010 Tinggalkan komentar

Oleh: Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr

Para pembaca LENTERA yang terkasih, pada bulan Oktober ini kembali kita merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS). Pada peringatan HPS atau World Food Day ini  masyarakat dunia diajak untuk merefleksikan dan memperhatikan kembali kondisi pangan dunia. Di banyak tempat, khususnya di negara-negara sedang berkembang, ketersediaan pangan tidak mencukupi, sehingga masyarakatnya diancam bahaya kelaparan. Masyarakat dunia perlu disadarkan atas situasi ini sehingga diharapkan tumbuh kerjasama untuk memperbaiki kondisi ini; membantu mereka yang lapar, miskin dan yang tertindas.KETERLIBATAN GEREJA

Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Membangun & Memelihara Sumber Pangan Sedunia

Oktober 11, 2010 Tinggalkan komentar

Oleh: T. Ngadiman

Ketika Gereja Katolik berbicara mengenai pangan, ada keprihatinan pada upaya secara berlanjut akan tersedianya pangan dan memelihara keutuhan ciptaan Tuhan. Allah menciptakan alam dan segala isinya adalah baik adanya (Kej 1:31). Manusia dengan akal dan budinya mampu membangun sumber pangan (Kej 1:26). Namun kondisi saat ini ada 1 dari 6 orang di dunia ini terancam kelaparan (Laporan World Food Summit 17 Nopember 2009).

Gereja Katolik mempelopori gerakan dan aksi solidaritas yang lebih nyata. Bapa Suci Paus Benediktus XVI dalam Ensinklik Caritas In Veritate (2010) menegaskan pembaharuan paham tentang “Option for the poor.” Dengan memberi­kan kesediaan orang Katolik untuk me­nyediakan miliknya bagi sesama yang kurang berada. Semua yang ada pada kita diberikan secara gratis, maka kita harus memberikan pula secara bebas pula, sebab semua datang karena cinta Allah.

Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Menjelang Hari Pangan Sedunia: Perlu Perubahan Mindset

Oktober 11, 2010 Tinggalkan komentar

Menyambut Hari Pangan Sedunia 12 Okt 2010 Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Triwibowo Yuwono, menilai perlu perubahan mindset di bidang pertanian. Alasannya, pemerintah hingga saat ini belum memperlihat­kan keberpihakan yang cukup untuk sektor ini. Jika mungkin, bahkan perlu dilakukan gerakan untuk para perumus kebijakan di bidang ini. Hal itu terlihat dari anggaran pada APBN yang dialokasikan di sektor pertanian masih sangat kecil, tidak sebanding dengan alokasi untuk sektor lain, semisal pendidikan. Pertanian semestinya mendapatkan perhatian khusus.

Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Deklarasi Ganjuran, Pembangunan Pertanian & Pedesaan Lestari

Oktober 21, 2009 Tinggalkan komentar

Oleh Romo Gregorius Utomo, Pr

(BAHAN MATERI SEMINAR HARI PANGAN SEDUNIA 2009 DI GEREJA KATOLIK SRAGEN)

Seminar Pangan_40

I. Pendahuluan

Dalam kurun waktu 60 tahun budidaya dalam masyarakat industri di negara-negara maju telah mengunakan budidaya pertanian kovensional/pertanian sarat kimia dengan meninggalkan budidaya pertanian organik. Hal ini juga diikuti oleh masyarakat negara yang sedang berkembang karena dipacu menuju masyarakat industri, termasuk Indonesia pada akhir tahun 1960-an.

Revolusi Hijau diterapkan (Program BIMAS, INMAS, SUPRA INSUS dan lain sebagainya) dengan untung dan kerugiannya, kita semua bisa menilainya sendiri. Banyak para petani yang sudah kehilangan kearifan budidaya pertanian organik, warisan para leluhur. Bidang pertanian dipacu ke arah agribisnis untuk mengejar ekspor dan mendapatkan dollar dari pasaran dunia. Swasembada beras digalakkan demi stabilitas nasional yang memberi kondisi sebaik mungkin bagi perkembangan industri. Akibatnya para petani kehilangan kemandirian dalam usaha taninya. Sebagai produsen mereka mensubsidi ekonomi nasional, sebagai konsumen tidak ada yang mensubsidi. Petani semakin tergantung dari faktor-faktor luar, sebagai konsumen industri benih, pupuk dan lain sebagainya. Akibatnya bumi semakin dibunuh, pencemaran di mana-mana, benih kuam tani menjadi punah, sedangkan benih dari industri benih transnasional menikmati monopoli (bibit-bibit IR : IR5, IR8, ….IR 33, IR 64, dst). Padahal kita semua seharusnya menyadari bahwa “Barang siapa menguasai benih, menguasai kehidupan”. Misi agar kaum tani menguasai benih tersebut tersirat dalam upacara wiwit. Pengetrapan Revolusi Hijau ternyata telah menghancurkan budaya pedesaan, namun demikian praktek Revolusi Hijau masih berkelanjutan dengan akibat pembunuhan bumi dan kaum tani.

Pemuda tani tidak lagi tertarik menjadi petani, Satu-satunya jalan keluar adalah mengembalikan kedaulatan kaum tani, kedaulatan bumi dan kedaulatan benih kaum tani  yang serba anekaragam hayati demi kedaulatan negeri ini

Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

CINTA BUMI SEHAT DAN LESTARI

Oktober 21, 2009 Tinggalkan komentar

Oleh: Romo Rosarius Sapto Nugroho,  Pr

(BAHAN MATERI WEDANGAN PATIMURA  2)

Pada Mulanya

BLOG“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej 1:1 – 2). Setelah itu diceritakan hari-hari penciptaan langit dan bumi. Ada konsep penciptaan yang ditawarkan dalam kisah tersebut; yaitu perubahan dari chaos (kacau balau) menjadi kosmos (keteraturan). Nampak sekali situasi chaos dalam kalimat itu: “bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita). Ketika penciptaan itu berakhir keadaannya berubah menjadi “semua itu baik” (ay.25) bahkan “sungguh amat baik” (ay.31). Dalam bab selanjutnya diceritakan manusia ditempatkan oleh Allah di taman Eden, tempat yang begitu damai. Di taman itu manusia bergaul dengan Allah dalam kedekatan yang sempurna. Kedekatan itu tergambar dengan jelas. ”Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,…” (3: 8). Begitulah relasi manusia dengan Allah dan alam begitu sempurna.

Dalam berbagai cerita kita sering mendengar gambaran Taman Eden yang begitu damai. Manusia tidak perlu memanjat pohon untuk makan mangga. Pohonnya yang membungkuk sehingga manusia dapat mengambil dengan mudah. Tidak ada buah yang masam. Semua enak untuk dimakan. Meski gambarannya begitu bombastis, tetapi pesan yang disampaikan sangat jelas. Manusia dan alam ada dalam relasi yang sempurna.

Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel