Beranda > Artikel > EKARISTI: Dasar Membangun Kedaulatan Pangan

EKARISTI: Dasar Membangun Kedaulatan Pangan

EKARISTI: Dasar Membangun Kedaulatan Pangan

Clip_2

A.  PERSOALAN PANGAN Dl DUNIA

1.    Pangan sangat penting bagi kehidupan. Karenanya, hak atas pangan merupakan perluasan dari hak asasi manusia paling mendasar untuk hidup. Sebagai kaidah hak asasi manusia, kedaulatan pangan menegaskan baik hak-hak individu maupun hak kolektifsekaligus mendorong pangejawantahan hak-hak tersebut. Hak untuk memiliki pangan secara teratur, permanen dan mendapatkan secara bebas dengan harga bahan pangan yang terjangkau bagi seluruh rakyat, jaminan untuk mengusahakan pangan yang sehat dan berkelanjutan, serta cocok dengan tradisi-tradisi kebudayaan/masyarakat yang mengkonsumsinya. Juga harus tersedia pekerjaan dan matapencaharian dengan pendapatan yang memadai untuk mendapatkan pangan dan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya.

2.    Sistem pangan dan pembangunan pertanian tidak berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan pemenuhan hak atas pangan rakyat. Arus globalisasi mendorong sistem pangan dan pertanian berada* di bawah monopoli dan kekuasaan perusahaan-perusahaan besar yang berada di balik upaya memaksakan kebijakan ekonomi neoliberal dan perdagangan bebas. Dengan berlakunya sistem tersebut, terbuka luas negara-negara maju untuk memasok hasil produksi dan sarana produksi pertanian ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Lahan besar yang sebelumnya diperuntukan untuk tanaman pangan telah dikonversikan menjadi tanaman perkebunan atau untuk peruntukan lainnya Perusahaan agrochemical trans-nasional terus menerus dan intensif mendorong penggunaan obat kimia, membuka pertar monokultur berskala besar dan memprorr tanaman modifikasi genetika yang membi petani semakin bergantung dan akan terus bergantung pada produknya.

3.    Pasar lokal dibanjiri oleh produk-produk komoditi pertanian import yang memaksa jatuh harga produk lokal. Ketersediaan pangan yang sehat, berkelanjutan dan secara budaya dapat diterima pengetahuan dan praktek yang berkelanjutan yang akrab dengan lingkungan semakin terancam dengan adanya dominasi globalisasi. Dalam situasi kondisi kerusakan produksi pertanian dan pangan, dimana dan bagaimana peran fungsi Gereja sebagai Sakramen Keselamatan.

B. LIMA ROTI DAN DUA IKAN

4.    “Kamu harus memberi mereka makan”, perintah Yesus kepada para murid untuk memberi kepada orang banyak yang seharian belun Perintah ini mau mengatakan bahwa para harus ikut bertanggungjawab terhadap ketersediaan pangan bagi mereka. Uang tidak bisa diandalkan untuk memenuhi pangan bagi orang banyak itu. Mereka jauh dari desa atau kota di mana ketersediaan pangan terjamin. Yang ada pada mereka adalah lima roti dan dua yang didapat dari bekal seorang anak laki-laki. Apa yang bisa para murid perbuat ?. Para murid datang kepada Yesus dan mengandalkan Yesus.

5.    Adanya lima roti dan dua ikan berasal dari keterbukaan dan kerelaan berbagi dari seorang anak. Bagi Yesus ini sudah cukup untuk menunjukan dan menyadarkan kepada para murid bahwa pentingnya berbagi dalam memenuhi pangan bagi banyak orang. Segalanya menjadi sangat mungkin ketika seseorang yang memiliki terbangun dan tergerak untuk berbagi satu sama lain. Sehingga tidak ada lag! yang berkekurangan dan tidak ada lagi yang berkelebihan. Dan inilah yang terjadi dari mujizat berbagi dari lima roti dan dua ikan. Ketersediaan pangan yang cukup, yang memungkinkan semua orang yang ada bisa makan sampai kenyang.

6.    Sistem distribusi pangan dan hasil pertanian yang dikontrol dan dikendalikan oleh kekuatan pasar global membuat pangan yang tadinya cukup bagi banyak orang sekarang menjadikan banyak orang yang kelaparan. Gerakan solidaritas berbagi pangan dari peristiwa “lima roti dan dua ikan” bisa menginspirasikan Gereja untuk ikut terlibat membangun kembali kedaulatan pangan. Yesus mempunyai kekuasaan untuk mengadakan ketersediaan pangan dan para murid mendistribusikan pangan itu secara adil, sehingga hak atas pangan bagi orang banyak yang berhimpun tercukupi dengan baik.

C. PANGAN EKARISTIK.

Clip_3

7.   Perayaan Ekaristi adalah perayaan syukur akan kenangan yang sekaligus penghadiran kembali Yesus yang menjadikan diri-Nya menjadi sumber makanan dan minuman, yang dilambangkan dalam rupa roti dan anggur bagi keselamatan hidup umat manusia. Oleh karena itu, Gereja dalam hidup dan menghidupi Ekaristi harus berfungsi dan berperan sebagai pangan ekaristik. Menjadikan dirinya untuk dibagi-bagi dan menjadikan makanan kehidupan bagi banyak orang. Persaudaraan alamiah yang tampak melalui pembagian makanan ini memancarkan penghargaan bukan hanya bagi manusia itu sendiri, tetapijuga untuk semua yang hadir. Tidakkah hal ini merupakan arti kesucian, makna iman yang meresap dalam kehadiran manakala orang-orang berkumpul bersama dalam sikap saling menghargai dan kehendak untuk saling berbagi, sebagai perlawanan individualisme dan kerakusan dari orang-orang yang hanya bertujuan menumpuk dan menguasai harta ?. Dalam sikap ini, Ekaristi mewujudkan suatu budaya yang berlawanan, protes profetis pada “kelekatan yang berlebihan”, penimbunan harta, pengabdian sekelompok besar manusia dari hak-hak atas pangan, atau hak untuk menghormati bumi sebagai sesuatu yang suci, yang memberi hidup dan kehidupan manusia.

8.   Terpujilah Engkau ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari bumi dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan”. Doa Liturgi Ekaristi ini mau menunjukan dan menegaskan bahwa bumi adalah yang memberi kehidupan, manusia yang mengusahakan kehidupan dan Allah yang menyelenggarakan kehidupan. Manusia harus mau terbuka dan bekerjasama dengan Allah untuk mengusahakan agar bumi memberi kehidupan yang cukup bagi banyak orang. Yesus menggunakan makanan sebagai simbol terbaik untuk mengungkapkan persembahan diri-Nya, mengundang pengikut-pengikut-Nya untuk saling berbagi dalam perjamuan cinta yang mana menghendaki adanya suatu kesediaan untuk berkorban dan berbagi.

9.   Semangat hidup ekaristik, yang hidup dan dihidupi akan mampu untuk mengimbangi dominansi globalisasi. Penghargaan atas bumi yang memberi kehidupan, penghormatan atas martabat manusia yang mengusahakan dan penyembahan kepada Allah yang menyelenggarakan kehidupan akan membawa kepada ketersediaan pangan yang sehat dan cukup bagi banyak orang. Semangat hidup ekaristik inijuga akan menumbuhkan dan mengembangkan penghargaan akan kedaulatan manusia atas dirinya dalam mengusahakan keterbukaan dan kerjasama dengan Allah untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan keutuhan ciptaan.

D. MARI MEMBANGUN KEDAULATAN PANGAN

10.   Hari Pangan Sedunia (HPS) sebagai seruan dan sekaligus gerakan moral, bisa menjadi momentum atas penghargaan dan penghormatan atas kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan sebagai kesadaran akan hak atas pengelolaan pangan yang sehat, cukup dan berkelanjutan menjadi fokus dan arah dalam gerakan HPS tahun 2009. Umat kristiani, dengan dasar kekuatan mujizat berbagi “lima roti dan dua ikan” dan semangat hidup ekaristik diajak untuk membangun dan mengembangkan kedaulatan pangan.

11. Hak atas pengelolaan pangan yang sehat, cukup dan berkelanjutan hanya bisa dikembangkan dengan sistem pembangunan pertanian yang ramah lingkungan. Pertanian ramah lingkungan mau mengembalikan manusai pada penghargaan nilai yang menjadi sifat-sifat ciptaan, dan kesadaran akan kenyataan bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan. Dalam kisah penciptaan, “Tuhan melihat semuanya itu baik”, dan manusia diberi tugas untuk menguasai semua yang baik itu. Menguasai yang baik, itu dapat diartikan sebagai penguasaan manusia akan pengenalan dan penghargaan nilai-nilai yang ada dan terkandung pada semua ciptaan. Allah menciptakan segala sesuatu yang ada dibumi dan dilangit pasti mempunyai nilai bagi kehidupan manusa. Oleh karena itu manusia mempunyai tanggungjawab moral untuk memelihara semua yang baik itu untuk keberlangsungan hidup dan kehidupan seluruh ciptaan. ***

Sumber: Panitia HPS

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: