Beranda > Artikel > Deklarasi Ganjuran, Pembangunan Pertanian & Pedesaan Lestari

Deklarasi Ganjuran, Pembangunan Pertanian & Pedesaan Lestari

Oleh Romo Gregorius Utomo, Pr

(BAHAN MATERI SEMINAR HARI PANGAN SEDUNIA 2009 DI GEREJA KATOLIK SRAGEN)

Seminar Pangan_40

I. Pendahuluan

Dalam kurun waktu 60 tahun budidaya dalam masyarakat industri di negara-negara maju telah mengunakan budidaya pertanian kovensional/pertanian sarat kimia dengan meninggalkan budidaya pertanian organik. Hal ini juga diikuti oleh masyarakat negara yang sedang berkembang karena dipacu menuju masyarakat industri, termasuk Indonesia pada akhir tahun 1960-an.

Revolusi Hijau diterapkan (Program BIMAS, INMAS, SUPRA INSUS dan lain sebagainya) dengan untung dan kerugiannya, kita semua bisa menilainya sendiri. Banyak para petani yang sudah kehilangan kearifan budidaya pertanian organik, warisan para leluhur. Bidang pertanian dipacu ke arah agribisnis untuk mengejar ekspor dan mendapatkan dollar dari pasaran dunia. Swasembada beras digalakkan demi stabilitas nasional yang memberi kondisi sebaik mungkin bagi perkembangan industri. Akibatnya para petani kehilangan kemandirian dalam usaha taninya. Sebagai produsen mereka mensubsidi ekonomi nasional, sebagai konsumen tidak ada yang mensubsidi. Petani semakin tergantung dari faktor-faktor luar, sebagai konsumen industri benih, pupuk dan lain sebagainya. Akibatnya bumi semakin dibunuh, pencemaran di mana-mana, benih kuam tani menjadi punah, sedangkan benih dari industri benih transnasional menikmati monopoli (bibit-bibit IR : IR5, IR8, ….IR 33, IR 64, dst). Padahal kita semua seharusnya menyadari bahwa “Barang siapa menguasai benih, menguasai kehidupan”. Misi agar kaum tani menguasai benih tersebut tersirat dalam upacara wiwit. Pengetrapan Revolusi Hijau ternyata telah menghancurkan budaya pedesaan, namun demikian praktek Revolusi Hijau masih berkelanjutan dengan akibat pembunuhan bumi dan kaum tani.

Pemuda tani tidak lagi tertarik menjadi petani, Satu-satunya jalan keluar adalah mengembalikan kedaulatan kaum tani, kedaulatan bumi dan kedaulatan benih kaum tani  yang serba anekaragam hayati demi kedaulatan negeri ini

II. Pemberlakuan Pasaran Bebas, WTO

a.  Pasaran Bebas

Pasaran Bebas atau Free Trade dalam perdagangan internasional diberlakukan berkaitan dengan ditanda-tanganinya GATT (General Aggreement on Tariffs and Trade) tanggal 15 Desember 1993 di Genewa oleh 105 negara termasuk Indonesia. Prosesnya dimulai dengan putaran Uruguay (PU) sejak 1986. Selanjutnya sejak tanggal 1 Januari 1995, GATT beroperasi sebagai World Trade Organization (WTO)

Pasaran bebas yang diberlakukan mulai tahun 2002 ke atas dimaksudkan untuk meningkatkan kemakmuran secara global baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Namun sudah banyak yang menduga bahwa yang akan paling beruntung dalam perdagangan bebas adalah negara-negara maju di belahan utara. Awalnya dimulai dengan kemampuan yang tidak sama. Perusahaan-perusahaan Multi Nasional di belahan utara sudah lebih dahulu menguasai perdagangan internasional. Perusahaan-perusahaan MN yang tidak mempunyai kredit dalam hal wawasan lingkungan hidup akan sangat beruntung dengan ditanda-tanganinya perjanjian GATT tersebut.

Kekuatan ekonomi rakyat akan secara substansial tergeser dengan leluasanya investasi modal asing yang mengalir masuk ke seluruh sektor perekonomian rakyat. Rakyat Indonesia selain masuk fase ketergantungan yang lebih dahsyat pada fihak asing juga akan kembali secara sistematis menempati posisi kuli atau budak didalam negerinya sendiri.

Bidang-bidang yang terkena perdagangan bebas.

1.    Perdagangan Bidang Jasa (Trade in Service)

2.    Hak Milik Intelektual yang terkait dengan Perdagangan (TRIPs— Trade Related  Intellectual Property Rights)

3.    Penanaman Modal Asing secara Bebas (TRIMs – International Investment Flows)

4.    Perdagangan Produk-Produk Pertanian.

Masyarakat pedesaan memang banyak yang tidak mengenal WTO dengan pasaran bebasnya, namun dampaknya mau tidak mau akan merasakan.

b.  Para Petani Menghadapi Problematik Globalisasi Ekonomi dan Pasaran Bebas.

Proses Globalisasi di Bidang Pertanian

Penjajahan baru yang lebih canggih akan dialami lagi oleh kaum tani karena demi pengamanan  pangan untuk hari depan, Revolusi Gen akan meneruskan Revolusi Hijau. Artinya prosesnya  bergulir dari Green Revolution menuju Gene Revolution dan akan ngetop menjadi Greed Revolution (Revolusi Keserakahan). Para bisnis benih internasional tak tanggung-tanggung telah menginvestasikan  dana untuk maksud tersebut. Akibatnya kerusakan lingkungan hidup akan lebih parah lagi. Memang ada KTT Bumi dan KTT lainnya yang diselenggarakan PBB yang maksudnya untuk menopang pemberdayaan kaum tani demi pengamanan pangan di hari depan, namun semua itu tidak berdaya menghadapi GATT/WTO dan pasar bebasnya yang bersifat wajib dan mengikat.

(Lihat diagram Situasinya : Petani Menghadapi Globalisasi Ekonomi dan Penjajahan Baru)

III.   Ada terang yang semakin benderang.

Lahirnya Paguyuban Tani –Nelayan Hari Pangan Sedunia

Pada seminar kaum Tani di Ganjuran pada 16 Oktober 1990 dDicetuskan Deklarasi Ganjuran sekaligus ditandai dengan lahirnya wadah kaum tani Paguyuban Tani Hari Pangan Sedunia selanjutnya berkembang menjadi Paguyuban Tani – Nelayan HPS.

  1. Amanat pokok Deklarasi Ganjuran :

Mengajak masyarakat untuk MEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN YANG LESTARI, yang berwawasan lingkungan (ecologically sound), murah secara ekonomis sehingga tergapai (economically feasible), sesuai dengan/berakar dalam kebudayaan setempat (culturally adapted/rooted) dan berkeadilan sosial (socially just). Untuk siapa saja dan apa saja (manusiawi dan kosmik). Deklarasi Ganjuran kalau disingkat adalah: menjadi Berkat bagi siapa saja dan apa saja demi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan.

b. Misi dan programnya

1.  Pola produksi lestari (sustainble pattern of production):

Meliputi pengendalian Hama-penyakit secara alami, pengolahan tanah dan air, daur ulang (menjaga keseimbangan kandungan-kandungan nutrisi dalam tanah/lahan, sehingga unsur-unsur yang diserap tanaman seimbang dengan unsur-unsur yang dikembalikan lagi ke tanah). Penggunaan benih asli kaum tani/lokal dsb.

2. Pola konsumsi lestari (sustainable pattern of consumption)

Pola produksi lestari merupakan dasar pola konsumsi lestari. Mengubah gaya hidup yang merusak lingkungan/alam menjadi gaya hidup yang melestarikan /bersahabat dengan lingkungan/alam, saling menjadi berkat dengan siapa saja dan apa saja dengan demikian semakin berkepribadian.

3. Menentang konsumerisme

Tidak ikut-ikutan bergaya hidup serakah dan gengsi yang bermental ingin memiliki apa saja dan apa saja ingin dimiliki, (to have more). Tetapi mengembangkan gaya hidup untuk semakin menemukan diri (to be more) dalam arti berkiblat pada pencarian kebenaran, keindahan dan kebaikan, dengan semangat kegotong-royongan dalam persekutuan dengan orang lain,demi peningkatan taraf hidup.

4.  Pertanian Organik Pertanian Masa Depan

Pertanian organik merupakan pertanian masa depan kini semakin luas berkembang di seleuruh muka  bumi ini, bukan hanya demi hasil bumi dan makanan yang bermutu, sehat dan aman, tetapi juga demia keselamatan manusia dan masyarakatnya termasuk alam lingkungan. Pelestarian alam kini semakin disadari sebagai kewajiban moral. Gerakan pertanian lestari/organik bukan semata-mata gerakan sosial ekonomi tetapi sekaligus gerakan moral. “Malapetaka yang besar dalam sejarah umat manusia ,” demikian Wandel Berry dalam bukunya, A Continouos Harmony, “karena manusia mengasingkan kesucian dari dunia, mangasingkan Tuhan dari Ciptaan-Nya — dengan hati dan pikirannya manusia bisa berdoa dengan khusuknya ke Surga tetapi seraya tangannya membunuh bumi dan sesamanya.

IV. Otonomi merupakan Hak Desa

A. Hak Desa dan Cakupan Otonominya

  1. Hak masyarakat desa untuk mengembangkan budaya dan adat istiadat setempat, bersebrangan dengan globalisasi kebudayaan.
  2. Hak masyarakat desa dalam pemeliharan kesehatan secara tradisional termasuk obat-obatan tradisional, berseberangan dengan mafia bisnis kesehatan dan obat-obatan. Pangkal kesehatan  bukan hanya sekedar tersedianya obat-obatan, entah itu tradisioanl maupun konvensional tetapi terutama tersedianya makanan sehat bebas pencemaran (You are what you eat). Maka para konsumen perlu bersahabat dengan para produsen lestari/organik. Kongkritnya bersahabat dengan petani organik.
  3. Hak masyarakat desa untuk mengembangkan dan memelihara benihnya sendiri (benih kaum tani) sebagai sumber aneka ragam hayati, bersebrangan dengan mafia bisnis benih transnasional yang telah membajak dan memunahkan benih kaum tani. Bisnis benih transnasional tersebut telah mengakibatkan keseragaman hayati yang sangat riskan (pembunuhan bumi dan kaum tani). Mafia industri benih tersebut menikmati monopoli dari pemerintah orde baru dalam praktek revolusi hijaunya yang selanjutnya diperkuat secara hukum oleh WTO, dengan pematenannya. Kita harus menyadari bahwa barang siapa menguasai benih, menguasai penghidupan. Oleh karena itu kembalikan kedaulatan benih kaum tani demi kedaulatan negeri ini. Sebagai contoh dalam rangka ekopolitik, sewajarnya di-perdes-kan penolakan desa terhadap masuknya benih-benih transgenik karena sangat riskan dampaknya bagi pelestarian masyarakat desa. Termasuk benih-benih terminator yang membuat ketergantungan kaum tani pada bisnis-bisnis benih.

(lihat diagram 2, diambil dari Konperensi Internasional tentang hak masyarakat asli)

  1. Untuk masyarakat nelayan itu berarti pelestarian dan konservasi sumber daya ikan. Termasuk konservasi habitatnya: terumbu karang, hutan bakau, dan muara-muara sungai;
  2. Kembalinya peranan kaum perempuan
  3. Semuanya itu menghadapi globalisasi tata ekonomi yang berlaku yang tidak lain merupakan globalisasi kekuasaan dan kebudayaan

B.    Masyarakat Desa harus pro-aktif dalam mewujudkan Otonomi Desa termasuk pelaksanaan eko-politik (politik pelestarian lingkungan hidup)

Dalam hal ini Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dengan membuat peraturan desa (PERDES) dengan segala cakupannya. Misalnya perdes yang proaktif mendukung, melindungi dan mengembangkan benih lokal dan secara tegas menetang benih transgenic dan makanan hasil rekayasa genetika walaupun hal tersebut terwujud dalam bentuk bantuan-bantuan.

Peraga-peraga dan lembaga-lembaga pencinta kaum tani dengan bekerja sama dengan tokoh-tokoh politik dan hukum hendaknya bisa bersungguh-sungguh membantu implementasii Otonomi Desa tersebut yang betul-betul akan membawa ke paradigma baru.

Otonomi desa tersebut ditopang dengan IGO tahun 1906 Staats Blad no. 83, Undang-undang no. 22 tahun 1999 pasal 93 s/d 111 selanjutnya diperbaharui dengan Undang-undang no. 32 tahun 2004, lihat pasal 209 s/d 216.

Tetapi harus disadari bahwa otonomi desa bukanlah pemberian pemerintah, baik pemerintah Hindia Belanda maupun pemerintah Repbulik Indonnesia, tetapi merupakan hak desa yang otentik, hak asasi desa.

V.    Pengembangan Spiritualita.

Mencari gaya hidup yang melestarikan lingkungan hidup sebagai gerakan moral dan perwujudan kekuatan moral.

a)      Kita tidak menolak IPTEK Modern, tetapi IPTEK Modern yang merusak lingkungan hidup harus ditolak. Karena merusak lingkungan hidup adalah melanggar moral (tubuh manusia juga termasuk lingkungan hidup), sedangkan melstarikan lingkungan hidup merupakan kewajiban moral. (Surat Gembala Sri Paus Yohannes Paulus II, 1 Januari 1990)

b)      Melestarikan lingkungan hidup secara sederhana dan kongkret sebaiknya dimulai di meja makan, dimulai dari anak-anak dalam keluarga, komunitas dan lain sebagainya. Tubuh kita  termasuk lingkungan hidup (eko–sistem). Oleh karena itu, jangan mencemari tubuh kita dengan makanan-makanan yang tercemar.

c) Menghayati spiritualita : Penciptaan, Berkat, dan Belas Kasih

d)      Motto Keluarga Besar Paguyuban Tani Nelayan Hari Pangan Sedunia

Berpandangan global, bertindak secara lokal (Think globally, act locally). Berpandangan global, bertanam yang lokal, makan yang lokal dan organik (Think globally, plant locally, eat locally and organically, you are what you eat). Untuk menjadi berkat bagi siapa saja dan apa saja. (To become a blessing for everyone and everything).

VI.   Tonggak-tongak sejarah dalam usaha penyelamatan lingkungan hidup.

a)   Surat Gembala Sri Paus Yohannes Paulus II, 1 Januari 1990

b)   Deklarasi Ganjuran 16 Oktober 1990

c)   KTT bumi di Rio de Janerio Brasil tahun 1992 (kelanjutan Koperensi PBB di Stockholm tahun 1972. KTT Johanesberg, 26 Agustus – 26 November 2002

d)   KTT Pangan 5 Tahun Kemudian Juni 2002 di Roma (World Food Summit 5 Years Later)

e)   Konggres Pertanian Organik seluruh dunia di Victoria, Vancouver, Kanada, bulan Agustus lalu. Dengan tema: Pengembangan Masyarakat Secara Luas (developing Communities) termasuk masyarakat biotik, zat-zat renik dsb, dengan tegas menolak produk-produk GMO (Genetic Modified Organism) dan benih transgenik.

f)    Konflik kepentingan antar industri benih dan kaum tani (antara Food Security dan Food Sovereignty). Konflik antara Pengamanan Pangan/Food Security (kelompok industri benih yang sudah siap dengan Revolusi Gen dengan benih-benih transgeniknya), dan Kedaulatan Pangan/Food Soverignity (kelompok Tani Nelayan) yang menolak produk-produk GMO dan benih transgenik demi kedaulatan kaum tani dan kedaulatan negerinya.

VII. Menyusutnya Kelomok Tani

Menyusutnya kelompok tani sebagai suatu keprihatinan

Masalahnya jumlah kaum tani di mana-mana semakin menyusut. Kaum muda tani tak tertarik lagi untuk tinggal di pedesaan. Keprihatinan tersebut juga diungkapkan dalam Konggres Pertanian Organik di Victoria, Vancouver. Maka perlu digalang kesetiakwanan dan jaringan kerja antar kaum muda pedesaan secara lokal, regional dan global bertumpu pada visi dan misi pembangunan pertanian dan pedesaan lestari. Langkah lainnya yang perlu ditempuh terutama:

a)   Mengintensifkan kemitraan usaha tani antar orang tua dan kaum muda (parent – youth partnership). Demi kemandirian kaum muda di masa mendatang.

b)   Mengakui dan menghormati hak milik kaum muda sejak dini (youth ownership termasuk hak asasi anak muda) sehingga tumbuh kegairahan kerja dan menabung modal sejak awal.

c)   Mengembangkan klub-klub (paguyuban) kaum muda/mudi tani/nelayan yang menggairahkan dan menggembirakan

d)   Membatinkan dan mengamalkan visi dan misi pelestraian lingkungan. Sebuah program penyadaran yang sejak dini harus sudah ditumbuhkan.

e)   Bagaimana peranan sekolah, lembaga-lembaga religius/kelompok dalam menghadapi kerpihatinan ini ?

VIII. Penutup

Nilai budaya rakyat setempat di dalam masyarakat yang sedang berkembang pada umumnya menandaskan hubungan integral antara yang ilahi dan yang manusiawi, sehingga setiap aspek kehidupan mengandaikan adanya landasan-landasan religius tertentu. Karena seluruh alam semesta ini pada dasarnya merupakan perwahyuan sang pencipta. Sabda yang demikian kasihnya dan demikian bijaknya (Dabhar Yahwe). Aktif menyabda/mencipta segala ciptaanNya, dahulu sekarang dan mendatang. Seperti dituturkan dalam Serat Centini :

“Angadhepna mukanira iki               hadapkan mukamu

marang ing sang katon                   pada apa saja yang tampak,

hiya iku kabeh Rarahine                   semua itu menyatakan wajah-Nya,

angalingi rahining dumadi               tersembunyi di dalam setiap wajah,

Rarahi kang luwih                            yang tampak adalah wajah-Nya,

Kang katon sawegung                    Yang Maha Agung

Kenyataan dewasa ini wajah-wajah Tuhan di alam semesta banyak yang rusak. Untuk itu sesungguhnya kita membutuhkan laki-laki dan perempuan yang betul-betul berjiwa religius dalam menghadapi seluruh lingkungan hidup dan alam semesta, mereka adalah orang-orang yang rela berprasetya menjawab belaskasih Allah yang secara luas dan mendalam sampai pada seluruh alam ciptaan-Nya. Itu berarti mencintai, menghormati, menjadi pramugari yang baik, dengan mengamalkan belas kasih Allah singkatnya menjadi berkat bagi siapa saja dan apa saja demi keadilan, perdamaian dan keutuhan Ciptaan.

G. Utomo, Pr

(Moderator Keluarga Besar Paguyuban Tani-Nelayan Hari Pangan Sedunia)

Pastoran Ganjuran P.O. Box 115 Bantul 55702 Yogyakarta

Telp. (0274) 367154 HP 08122720688

E-mail: ganjuran@indosat.net.id

sptnhps@yahoo.co.uk

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: