Beranda > Artikel > Peringatan HPS: Momen Menyapa Para Petani

Peringatan HPS: Momen Menyapa Para Petani

Oleh: Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr

Para pembaca LENTERA yang terkasih, pada bulan Oktober ini kembali kita merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS). Pada peringatan HPS atau World Food Day ini  masyarakat dunia diajak untuk merefleksikan dan memperhatikan kembali kondisi pangan dunia. Di banyak tempat, khususnya di negara-negara sedang berkembang, ketersediaan pangan tidak mencukupi, sehingga masyarakatnya diancam bahaya kelaparan. Masyarakat dunia perlu disadarkan atas situasi ini sehingga diharapkan tumbuh kerjasama untuk memperbaiki kondisi ini; membantu mereka yang lapar, miskin dan yang tertindas.KETERLIBATAN GEREJA

Kehadiran gerakan HPS dalam Gereja kita sudah berlangsung sejak tahun 1982. Gereja melibatkan diri dalam gerakan HPS  karena gerakan tersebut selaras dengan tugas perutusan Yesus yang terungkap dalam Perayaan Ekaristi. Kita semua tahu bahwa Perayaan Ekaristi adalah pusat dan puncak perayaan iman serta perayaan syukur akan kenangan yang sekaligus peng­hadiran kembali Yesus yang menjadikan diri-Nya menjadi sumber makanan dan minuman, yang dilambangkan dalam rupa roti dan anggur bagi keselamatan umat manusia. Ekaristi bisa ditempatkan sebagai jiwa kemanusiaan untuk me­ngembang­kan ketersediaan pangan yang menyejahterakan bagi semua orang. Dengan kata lain bagi kita spiritualitas HPS adalah spiritualitas ekaristi.

Pesan perutusan Yesus dalam Ekaristi sangat jelas dan tegas: menjadi­kan diri-Nya untuk dibagi-bagi dan menjadi makanan kehidupan bagi banyak orang. (bdk. doa persiapan konsekrasi).  Semakin tegas lagi Tuhan memberi perintah kepada kita untuk memberi makan kepada sesama, seperti yang ditulis dalam Injil: “Kamu harus memberi mereka makan.” (Mrk 6:37; Mat 14:16; Luk 9:13). Atas dasar spiritualitas HPS ini Gereja Katolik terpanggil dan mendorong umat dan masyarakat untuk menumbuhkan dan mengembangkan ketersediaan pangan yang berdaulat, berkeadilan dan berkelanjutan bagi kesejahteraan hidup manusia dan keutuhan ciptaan.

Dengan demikian keterlibatan Gereja Katolik dalam gerakan HPS bukan terutama persoalan teknis tetapi persoalan etis, moral bahkan iman. Gereja melibatkan diri lebih sebagai pendorong, penggerak dan  motivator (boleh juga dalam arti positif sebagai provokator, tukang “ngompori” atau penyebar “virus HPS”) bagi umat untuk mempunyai perhatian pada soal ketersediaan pangan dan membangun gerakan bersama dalam memastikan ketersediaan pangan yang bermutu.

Selain itu, dasar keterlibatan Gereja adalah keberpihakannya pada kaum miskin yang tidak bisa mendapat­kan haknya atas pangan. Kita berharap dengan peringatan HPS ini kita sebagai Gereja dan bagian utuh dari masyarakat bisa semakin ikut andil dalam me­ngupaya­kan hak atas pangan bagi siapa pun juga, terlebih yang lemah, miskin dan tersingkir.

TEMA HPS

Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa FAO menetapkan tema HPS 16 Oktober 2010: “Feeding One Billion Hungry” (Memberi Makan Satu Milyar Orang Lapar). Panitia HPS KWI memandang tema tersebut sebagai ajakan menggalang solidaritas masyarakat dunia yang membutuhkan waktu panjang. Tidak mungkin mem­bantu memberi makanan hanya untuk sekali makan. Oleh karena itu KWI menetapkan tema besar untuk 3 tahun, “Menyelamatkan Pangan Untuk Semua”.

Tema ini dijabarkan dalam sub tema tahunan:

Tahun 2010: Membangun dan Memelihara Sumber Pangan

Tahun 2011: Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Tahun 2012: Membangun Kecukupan Pangan Bagi Semua Orang

PILIHAN PERHATIAN

Paroki Sragen sebagai bagian dari Gereja Indonesia bahkan Gereja universal juga terpanggil untuk ikut serta terlibat dalam gerakan bersama untuk menyelamatkan pangan untuk semua. Dengan mengacu pada prinsip pokok keterlibatan Gereja terhadap gerakan HPS bukan terutama soal teknis tetapi soal etis, moral dan iman, maka paroki Sragen dalam merayakan HPS lebih mengarah kepada gerakan menumbuhkan kesadaran umat  terhadap pentingnya membangun dan memelihara sumber pangan. Gerakan ini akan diwujudkan dan disatukan dalam suatu perayaan iman yakni Ekaristi yang tidak lain adalah spiritualitas gerakan HPS.

HPS sebagai gerakan untuk melestarikan ketersediaan pangan tidak hanya mencakup pengertian tersedia pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses/membeli pangan dan tidak terjadi keter­gantungan pangan pada pihak manapun. Dalam hal ini petani adalah produsen pangan dan petani sekaligus kelompok konsumen pangan terbesar. Maka konsep ketahanan pangan berkembang pada upaya mewujudkan kedaulatan pangan yakni keberdayaan petani atas hidup dan kemandiriannya.

Berdasarkan hal itu, Paroki Sragen akan memulai gerakan menyapa para petani dalam peringatan HPS tahun ini. Salah satu wujud dari sapaan kepada para petani adalah akan diadakannya perayaan liturgi yang menyentuh langsung kehidupan para petani. Hal ini dirasa relevan untuk kita karena wilayah kita Kabupaten Sragen ini adalah salah satu lumbung pangan bagi masyarakat Jateng yang tentunya banyak atau sedikitnya isi lumbung sangat tergantung pada para petani. Kita ketahui juga bahwa sebagian besar mata pencaharian masyarakat Sragen adalah bertani (data BPS 2008: jumlah peduduk  871.951; sebagai petani:144.897). Demikian juga data yang dimiliki oleh paroki berdasarkan mata pencaharian, jumlah umat sebagai petani menempati urutan pertama, disusul guru dan karyawan (241; 191; 116).***

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: