Beranda > Artikel > CINTA BUMI SEHAT DAN LESTARI

CINTA BUMI SEHAT DAN LESTARI

Oleh: Romo Rosarius Sapto Nugroho,  Pr

(BAHAN MATERI WEDANGAN PATIMURA  2)

Pada Mulanya

BLOG“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej 1:1 – 2). Setelah itu diceritakan hari-hari penciptaan langit dan bumi. Ada konsep penciptaan yang ditawarkan dalam kisah tersebut; yaitu perubahan dari chaos (kacau balau) menjadi kosmos (keteraturan). Nampak sekali situasi chaos dalam kalimat itu: “bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita). Ketika penciptaan itu berakhir keadaannya berubah menjadi “semua itu baik” (ay.25) bahkan “sungguh amat baik” (ay.31). Dalam bab selanjutnya diceritakan manusia ditempatkan oleh Allah di taman Eden, tempat yang begitu damai. Di taman itu manusia bergaul dengan Allah dalam kedekatan yang sempurna. Kedekatan itu tergambar dengan jelas. ”Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,…” (3: 8). Begitulah relasi manusia dengan Allah dan alam begitu sempurna.

Dalam berbagai cerita kita sering mendengar gambaran Taman Eden yang begitu damai. Manusia tidak perlu memanjat pohon untuk makan mangga. Pohonnya yang membungkuk sehingga manusia dapat mengambil dengan mudah. Tidak ada buah yang masam. Semua enak untuk dimakan. Meski gambarannya begitu bombastis, tetapi pesan yang disampaikan sangat jelas. Manusia dan alam ada dalam relasi yang sempurna.

Kok Sekarang?

”Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakananya” (Kej 3: 6b). Tindakan itulah yang menjadi awal sejarah penderitaan di dunia. ”Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan daripadanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupmu. Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan perpeluh engkau akam mencari makananmu sampai engkau kembali lagi menjadi tanah..” (Kej 3:17 – 19).

Keadaan berubah toal ketika manusia tidak bersahabat dengan Allah dan alam. Manusia harus bersusah paya sampai berpeluh-peluh untuk memperoleh makanannya. Ia tidak bisa lagi memerintah pohon untuk membungkuk memberikan buahnya yang terbaik. Bahkan yang diperoleh pun bukan hasil yang terbaik. Yang keluar hanya semak duri dan rumput duri; sebuah cerita yang sarat makna.

Sekarang ini kita bekerja dengan segala susah payah. Kita ingin mencari makan. Tetapi yang kita makan hanya semak duri, makanan yang penuh dengan racun yang mengendap di tubuh kita. Manusia menanam padi, yang dituai racun urea dan berbagai endapan pestisida. Manusia menanam berbagai buah, yang dipetik pestisida dan racun-racun perangsang rasa manis pada buah-buahan. Manusia menanam sayur, tetapi yang di masak racun pembunuh serangga. Manusia memelihara ayam, yang dipotong segunung kolesterol yang menyumbat koroner jantung.

Keinginan manusia untuk tampil cantik telah membuahkan ramuan racun yang memutihkan kulit. Keinginan manusia untuk makan enak, telah menimbun lemak dan kolesterol di pembuluh koroner jantung, hasil dari obat perangsang pertumbuhan. Keinginan manusia untuk memperoleh keuntungan yang lebih telah membuatnya tega memperlakukan sesama yang hidup seperti jenazah di kamar mayat, dengan menambah pengawet dalam makanan. Manusia telah makan ”buah” yang oleh Tuhan telah diperintahkan ”Jangan makan dari padanya.”

Mengapa sejarah berjalan ke arah seperti itu?

Tentu ada banyak sekali jawaban yang dapat kita kemukakan. Salah satu jawabannya juga kita temukan dalam sejarah. Ketika Amerika dilumpuhkan oleh Jepang karena serangan telak di Pearl harbour, Amerika memikirkan cara yang paling tepat dan cepat untuk melumpuhkan Jepang. Penemuan Einstein menjadi jawaban yang dipilih. Amerika menjatuhkan dua bom atom di Jepang. Setelah itu terjadi perubahan iklim yang sangat drastis. Pertanian kentang di Eropa dan Rusia mengalami kegagalan dalam skope yang sangat luas. Supplay makanan menjadi terancam untuk jangka waktu yang panjang. Permasalahan tersebut mendorong semua pemerintahan negara Eropa dan Amerika untuk mencari penyelesaian yang cepat dan tepat. Revolusi Hijau adalah jawaban yang dipilih. Pemerintah bekerja sama dengan pemodal mengembangkan pertanian transgenik (hibrida) yang dapat memproduksi makanan lebih cepat. Bumi dipacu sedemikian rupa untuk menghasilkan makanan yang lebih cepat. Konsep tentang ketahanan pangan menjadi issu yang dibicarakan di semua negara.

Ketika tenaganya habis, bumi dipacu dengan berbagai makanan tambahan yang bernama pupuk kimia. Terus menerus bumi di kuras sampai habis kekeuatannya. Yang tersisa hanya residu racun yang menumpuk di tanah dan hasil bumi. Demikanlah terjadi sampai sekarang… kita menanam sayur… tetapi yang kita masak adalah tampon pestisida.

Pada akhirnya…

Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru.” (Why 21:5) Itulah janji Allah untuk akhir jaman. Kita tidak tahu bagaimana hal itu akan terjadi. Tetapi kita memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan langit dan bumi yang baru itu. Tentu bukan dengan melestarikan perusakan alam dengan alasan yang semulia apapun.

Dari mana kita akan memulai langkah mempersiapkan langit baru dan bumi baru itu? Tentu dari diri kita sendiri. Kesadaran akan pola konsumsi yang sehat bisa menjadi awal perubahan paradigma dunia. Kesadaran akan pola konsumsi yang sehat akan memicu menculnya berbagai gerakan pola produksi makanan yang lestari. Bukan hanua itu… pola konsumsi yang sehat memunculkan kesadaran global tentang pelestarian bumi sebagai Taman Eden pemberian Tuhan. Makanan kita tidak sehat kalau air bersih yang kita gunakan hilang dari permukaan bumi. Sawah telah kehilangan sumbernya karena penambangan pasir yang rakus, sehingga terpaksa mengambil air limbah yang tercemar yang dibuang sembarangan tanpa pengolahan yang benar. Keinginan kita untuk makan sayur dan nasi yang segar mendorong para petani untuk menggemburkan tanah yang keras oleh pupuk kimia dengan pupuk organik yang ramah lingkungan. Bukan hanya dampak lingkungan.. dampak sosialnya juga tak kalah besar. Harkat dan martabat petani semakin terjunjung. Banyak kaum muda tidak malu menjadi petani sehingga terhindar dari rasa putus asa karena tidak tersedianya lapangan kerja yang sering memunculkan berbagai perilaku negatif di masyarakat.

Dari satu titik di dalam diri kita… KESADARAN AKAN PANGAN YANG SEHAT.. kita mempersiapkan terwujudnya langit baru dan bumi baru.

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: