Beranda > Berita > Wedangan Patimura 2

Wedangan Patimura 2

PERTANIAN ORGANIK :  Pangan yang sehat dan upaya melestarikan ciptaan.

blogview

Paroki Sragen – Wedangan Patimura 2 edisi Oktober, Kamis (15/10) menjadi rangkaian dari Peringatan Hari Pangan Sedunia 2009 Kevikepan Surakarta yang kebetulan tahun ini Paroki Sragen bertindak menjadi tuan rumah. Adapun tema yang diangkat adalah “ Pertanian Organik: Pangan yang sehat dan upaya melestarikan ciptaan.” Narasumber oleh Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr dari Magelang. Peserta yang hadir mencapai 300 orang lebih, selain dari warga Paroki Sragen juga berasal dari utusan-utusan paroki di Kevikepan Surakarta, Kelompok-kelompok Tani yang ada di Sragen dan juga undangan dari beberapa intansi serta paguyuban-paguyuban lainnya.

Di awal acara, Romo Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr (Pastor Kepala Paroki Sragen) dalam sambutannya mengatakan bahwa Peringatan Hari Sedunia merupakan wujud kepeduliaan kita terhadap persoalan pangan.  Semoga dengan  acara wedangan patimura ini , peserta yang hadir bisa mendapatkan wawasan yang baru  dan bisa meneguhkan apa yang menjadi keprihatinan , keinginan dan niat untuk menjadikan persoalan pangan bisa teratasi dengan baik. Paroki Sragen tahun ini  berkesempatan  menjadi tuan rumah pelaksanaan HPS (Hari Pangan Sedunia) ini. Kegiatan ini  menjadi tradisi Gereja Katolik tiap tahun.  Mengapa Gereja Katolik peduli? Karena gerakan HPS ini menyangkut persoalan  seluruh umat manusia, berkaitan dengan hak paling dasar dalam hidup karena pangan bagian dari hak asasi manusia.  HPS dicanangkan sejak 1981, saat deklarasi FAO di Roma bahwa mulai tahun 1981 seluruh negara yang menjadi anggota , termasuk Indonesia wajib merayakan HPS. Tanggal 16 Oktober dipilih karena itu hari jadi FAO. Dan Gereja langsung menanggapi hal tersebut dengan Ensiklik dari Bapa Paus Yohanes Paulus II berkaitan dengan kewajiban seluruh umat manusia lebih-lebih warga Gereja Katolik untuk ikut peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup dan HPS menjadi bagian upaya itu.

Gereja sangat menyadari bagian dari masyarakat yang tidak bisa dipisahkan. Kerjasama dengan berbagai pihak sangat diperlukan.  Dan Gereja sangat senang mendapat tanggapan yang baik dari teman-teman beragama lain atas kerelaan untuk terlibat dalam kepedulian ini. Hai ini bisa menjadi tanda untuk mengawali dan melanjutkan dalam meanggapi HPS.

Persoalan tentang Pangani bukan persoalan keyakinan dan agama, tapi ini soal kemanusiaan dan ini menjadi persoalan kita bersama. Pesesrta yang hadir di acara ini  dengan iman yang berbeda-beda, tapi sama-sama menyadari adalah bagian dari masyarakat dunia, dipanggil untuk menjaga kelestarian alam dan termasuk bagaimana mengupayakan persoalan ini bisa diatasi bersama-sama.

Pada kesempatan itu Bp. Ir. Tentrem (Kepala Dinas Ketahan Pangan Kabupaten Sragen) mengungkapkan bahwa sesuai dengan UU tentang Pangan No.7 1996, ketersediaan pangan itu diartikan tercukupinya ketersediaan hak yang paling asasi bagi rakyat yakni pangan. Dimana itu harus tersedia secara cukup, aman, gizi, tersedia antar waktu dan antar wilayah. Ini adalah kewajiban kita bersama, baik pemerintah dan maupun wilayah. Dinas Ketahanan Pangan merupakan unit –unit kerja kantor yang  menyusun program utama tentang ketahanan pangan. Pelaksana kerja bidang tehnik adalah para kepala sub sektor terkait. Dinas Pertanian ditarget harus memproduksi gabah dan beras sekian, Dinas Peternakan ditarget memproduksi susu, ikan, daging sekian, dsb

Sedangkan Bp. Ir. A. Haryoto (Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen) mengatakan menurutnya ketahanan pangan adalah tersedianya hak asasi manusia yakni pangan. Tidak cukup hanya tersedia: tapi sehat, cukup merata setiap saat dan terjangkau. Inilah ketahanan pangan yang baik. Kalau ditanya Sragen seperti apa? Di Indonesia ini punya target 6 juta ton pangan, di Jawa Tengah sekian juta, sedangkan Kabupaten Sragen kebagian 250  ribu ton. Sragen punya sawah 40.000 hektar, ada yang panen 2 dan 3 kali. Satu tahun panenannya 90.000 hektar. Tahun 2009 punya beras/gabah 492 ribu ton. Kalo dijadikan beras sudah  melampaui target, artinya Sragen surplus beras. Sragen setiap hari keluar beras 1000 ton. Artinya Sragen berkecukupan beras. Lalu apakah sudah cukup ketersediaan pangannya? Ternyata belum…Meskipun Sragen menjadi lumbung pangan  di Jawa Tengah dan penyangga stok pangan nasional, tapi masih menyisakan PR karena masih minus kedelai minus,di sektor peternakan susu, daging dan telur rata-rata juga minus. Saat ini tanaman Garut, umbi-umbian sedang dikembangkan.

Beberapa hal  yang harus diperhatikan dalam mewujudkan ketahanan pangan:

  • Bertani tidak cukup tanpa sarana dan prasarana. Air harus tersedia cukup, hal ini diatasi dengan mengembangkan embung-embung cadangan air untuk pertanian.
  • 5 – 10 tahun ke depan tidak ada lagi pemuda yang suka ke sawah, hal ini diantisipasi dengan mekanisasi dengan mesin pendukung pertanian. Ke depan mekanisasi menjadi arahan.
  • Kecenderungan kualitas sawah menjadi turun karena penggunaan kimia yang berlebihan. Pak Haryoto merasa bangga karena Gereja Katolik mengambil sikap pertanian organik karena Sragen adalah Kabupaten pertama yang mengembangkan organik. Di Indonesia baru hanya satu Kabupaten yang memiliki sawah yang berserttifikat organik, yakni Kabupaten Sragen. Saat ini Sragen baru punya 190 hektar dari luas dimana 5000 hektar untuk pertanian organik
  • Petani tidak boleh menjadi petani miskin,maka akan terus diberdayakan dan dididik. Sebagai peran sektor pertanian. Diharapkan petani tidak selalu mengandalkan hidup dari bertani saja tapi juga punya home industri dan pekerjaan lainnya,maka penyediaan modal dan sebagainya.

Sedangkan dari Bp. Ir.Tentrem mengatakan bahwa kekurangan komoditas bisa disebabkan dengan kecenderungan pemuda enggan ke sawah dan jawabnya adalah mekanisasi.  Upaya kita adalah dengan menagdakan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bagi petani. Tentang Organik: penggunaan bahan kimia bagi pertanian memang bersifat racun terhadap tanah sehingga kita berupaya untuk kembal pada sistem pertanian organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain itu juga dibuat  program dengan sosialisasi kepada masyarakat  dan upaya bantuan kepada subsektor-sub sektor yang produktiitasnya kurang.

Narasumber utama Wedangan Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr menyampaikan materi sesuai tema wedangan yakni “Pertanian Organik: Pangan yang sehat dan upaya melestarikan lingkungan pertanian.” Dijelaskan bahwa pasca Perang Dunia II mengalami perubahan mendasar dari Pertanian konvensional menuju pertanian industri yang berbasis pada rekayasa genetik dan pupuk kimia dilakukan untuk menjawab masalah ketersediaan pangan. Ketahanan Pangan adalah masalah pribadi yang terus dihadapi manusia .Tetapi tetap disertai dengan satu pertanyaan besar. Apa benar hasil bumi ini tidak mampu mencukupi kebutuhan umat manusia? Sisa makanan salah satu kota di Amerika dalam sehari mampu mencukupi sekitar 40 orang di Afrika. Pertanian sebagai industri mengikuti hukum kapital. Modal yang kuat akan mencaplok modal yang lemah. Mencari keuntungan yang besar dalam waktu yang singkat. Ketahanan  pangan bisa dijadikan senjata kapitalisme untuk mencaplok dunia pertanian. Kini setelah  60 tahun, Revolusi hijau yang dipercaya bisa mengatasi masalah pangan dunia menunjukkan kegagalannya. Dari waktu ke waktu produktiitas bumi semakin menurun. Bumi semakin rusak. Untuk mengatasi tersebut dan mempertahankan ketahanan pangan diadakan gerakan kembali ke alam menjadi kesadaran baru seluruh umat manusia. Empat bidang kehidupan yang tergantung pada pertanian: Food, fuel, fiber dan farmasi.  Hal ini menjadi awal kebangkitan petani di Milenium ke-3. (dn)

Kategori:Berita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: