Pembukaan Pameran HPS

Pembukaan Pameran Hari Pangan Sedunia 2009 Kevikepan Surakarta oleh Bupati Sragen, H. Untung Wiyono dan Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr ditandai dengan penandatangan prasasti yang telah disiapkan oleh Panitia HPS, Jumat (16/10)
Usai pembukaan Bupati Sragen beserta Muspida Kabupaten Sragen dan Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo beserta Vikep Surakarta, Romo Ignatius Djono Wasono, Pr; Pastor Paroki Sragen, Romo Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr beserta tokoh umat dan Panitia HPS mengunjungi stand-stand pameran yang berada di Jl. Patimura yang depan Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen. Read more…
Stand Pameran Hari Pangan Sedunia 2009 di Gereja Katolik Sragen
Deklarasi Ganjuran, Pembangunan Pertanian & Pedesaan Lestari
Oleh Romo Gregorius Utomo, Pr
(BAHAN MATERI SEMINAR HARI PANGAN SEDUNIA 2009 DI GEREJA KATOLIK SRAGEN)

I. Pendahuluan
Dalam kurun waktu 60 tahun budidaya dalam masyarakat industri di negara-negara maju telah mengunakan budidaya pertanian kovensional/pertanian sarat kimia dengan meninggalkan budidaya pertanian organik. Hal ini juga diikuti oleh masyarakat negara yang sedang berkembang karena dipacu menuju masyarakat industri, termasuk Indonesia pada akhir tahun 1960-an.
Revolusi Hijau diterapkan (Program BIMAS, INMAS, SUPRA INSUS dan lain sebagainya) dengan untung dan kerugiannya, kita semua bisa menilainya sendiri. Banyak para petani yang sudah kehilangan kearifan budidaya pertanian organik, warisan para leluhur. Bidang pertanian dipacu ke arah agribisnis untuk mengejar ekspor dan mendapatkan dollar dari pasaran dunia. Swasembada beras digalakkan demi stabilitas nasional yang memberi kondisi sebaik mungkin bagi perkembangan industri. Akibatnya para petani kehilangan kemandirian dalam usaha taninya. Sebagai produsen mereka mensubsidi ekonomi nasional, sebagai konsumen tidak ada yang mensubsidi. Petani semakin tergantung dari faktor-faktor luar, sebagai konsumen industri benih, pupuk dan lain sebagainya. Akibatnya bumi semakin dibunuh, pencemaran di mana-mana, benih kuam tani menjadi punah, sedangkan benih dari industri benih transnasional menikmati monopoli (bibit-bibit IR : IR5, IR8, ….IR 33, IR 64, dst). Padahal kita semua seharusnya menyadari bahwa “Barang siapa menguasai benih, menguasai kehidupan”. Misi agar kaum tani menguasai benih tersebut tersirat dalam upacara wiwit. Pengetrapan Revolusi Hijau ternyata telah menghancurkan budaya pedesaan, namun demikian praktek Revolusi Hijau masih berkelanjutan dengan akibat pembunuhan bumi dan kaum tani.
Pemuda tani tidak lagi tertarik menjadi petani, Satu-satunya jalan keluar adalah mengembalikan kedaulatan kaum tani, kedaulatan bumi dan kedaulatan benih kaum tani yang serba anekaragam hayati demi kedaulatan negeri ini
CINTA BUMI SEHAT DAN LESTARI
Oleh: Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr
(BAHAN MATERI WEDANGAN PATIMURA 2)
Pada Mulanya
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej 1:1 – 2). Setelah itu diceritakan hari-hari penciptaan langit dan bumi. Ada konsep penciptaan yang ditawarkan dalam kisah tersebut; yaitu perubahan dari chaos (kacau balau) menjadi kosmos (keteraturan). Nampak sekali situasi chaos dalam kalimat itu: “bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita). Ketika penciptaan itu berakhir keadaannya berubah menjadi “semua itu baik” (ay.25) bahkan “sungguh amat baik” (ay.31). Dalam bab selanjutnya diceritakan manusia ditempatkan oleh Allah di taman Eden, tempat yang begitu damai. Di taman itu manusia bergaul dengan Allah dalam kedekatan yang sempurna. Kedekatan itu tergambar dengan jelas. ”Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,…” (3: 8). Begitulah relasi manusia dengan Allah dan alam begitu sempurna.
Dalam berbagai cerita kita sering mendengar gambaran Taman Eden yang begitu damai. Manusia tidak perlu memanjat pohon untuk makan mangga. Pohonnya yang membungkuk sehingga manusia dapat mengambil dengan mudah. Tidak ada buah yang masam. Semua enak untuk dimakan. Meski gambarannya begitu bombastis, tetapi pesan yang disampaikan sangat jelas. Manusia dan alam ada dalam relasi yang sempurna.
Wedangan Patimura 2
PERTANIAN ORGANIK : Pangan yang sehat dan upaya melestarikan ciptaan.

Paroki Sragen – Wedangan Patimura 2 edisi Oktober, Kamis (15/10) menjadi rangkaian dari Peringatan Hari Pangan Sedunia 2009 Kevikepan Surakarta yang kebetulan tahun ini Paroki Sragen bertindak menjadi tuan rumah. Adapun tema yang diangkat adalah “ Pertanian Organik: Pangan yang sehat dan upaya melestarikan ciptaan.” Narasumber oleh Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr dari Magelang. Peserta yang hadir mencapai 300 orang lebih, selain dari warga Paroki Sragen juga berasal dari utusan-utusan paroki di Kevikepan Surakarta, Kelompok-kelompok Tani yang ada di Sragen dan juga undangan dari beberapa intansi serta paguyuban-paguyuban lainnya.
Lomba Memasak dengan bahan makanan organik bagi kaum muda
Ada Apa Dengan Hari Pangan Sedunia?
Oleh: Rm. Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr

Para pembaca yang terkasih, dalam satu bulan terakhir ini paroki Sragen disibukkan dengan persiapan peringatan Hari Pangan Sedunia yang dirayakan pada tanggal 16 Oktober. Mungkin banyak diantara kita yang bertanya dalam hati, mengapa ada peringatan itu? Apa yang diperingati? Mengapa Gereja ikut merayakannya?
Sejarah peringatan Hari Pangan Sedunia bermula dari konferensi Food and Agriculture Oganization (FAO) ke 20, bulan Nopember 1976 di Roma yang memutuskan untuk dicetuskannya resolusi No. 179 mengenai World Food Day (Hari Pangan Sedunia). Resolusi disepakati oleh 147 negara anggota FAO, menetapkan bahwa mulai tahun 1981 segenap negara anggota FAO setiap tanggal 16 Oktober mem¬peringati Hari Pangan Sedunia (HPS). Perlu juga diketahui bahwa tanggal 16 Oktober adalah hari ber-dirinya FAO. Tujuan dari peringatan HPS tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik ditingkat global, regional maupun nasional.
Kebutuhan akan pangan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk bisa hidup. Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut akan berdampak fatal bagi kelangsungan hidup seseorang. Bisa mengakibatkan kematian. Maka hak atas pangan menjadi bagian penting dari hak asasi manusia yang harus terpenuhi. Hal ini kiranya yang mendasari FAO membuat gerakan kepedulian terhadap pengadaan pangan. Gerakan ini dirasakan semakin mendesak untuk saat ini. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, tidak diimbangi dengan peningkatan pangan bahkan ada kecenderungan menurun, akan mengakibatkan krisis pangan bagi penghuni bumi ini. Penurunan jumlah produksi pangan, terjadi karena laju pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian begitu tinggi. Hal ini bisa kita lihat langsung di tempat kita ini. Sawah yang dulu terbentang luas di sekitar kota Sragen ini, kini mulai dan terus berkurang, terdesak oleh kebutuhan tempat tinggal. Dan kita boleh yakin bahwa di suatu saat nanti jika tidak ada pengendalian yang serius soal ini, habis sudah lahan pertanian di kota kita ini.
SARASEHAN / SEMINAR TENTANG PANGAN

WEDANGAN PATIMURA 2
(Sarasehan yang dikemas dalam suasana santai khas Wedangan)
Narasumber:
Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr
Tema : “ Pertanian Organik: Pangan yang sehat dan upaya melestarikan ciptaan.”.
Pelaksanaan: Kamis, 15 Oktober 2009; Pukul 19.00 WIB
Tempat di Halaman Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen
******************************************************************
SEMINAR PANGAN
Narasumber : Romo Gregorius Utomo, Pr
Tema : ”Spiritualitas & Hak-Hak Atas Pangan”
Pelaksanaan: Jumat, 16 Oktober 2009, Pukul 09.00 WIB
Tempat di halaman Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen




Komentar Terakhir